Setelah sekian lama tak menulis rasanya canggung kembali berhadapan
dengan halaman kosong di Microsoft Word. Lembar putih kosong itu kini
terasa terlalu kosong. Aku tertegun, malu. Sangsi seakan tak hendak
pergi dariku, tariannya menari-nari men(an)gisi suasana di ruang kamar.
Sangsi bisa menulis lagi. Sangsi, apakah menulis memang jalanku.
Ataukah, aku hanya memaksakan diri bersahabat dengan hal yang tidak
mungkin.
Sudah lama aku tidak menulis. Alasannya simpel, ketidak-hadiranmu
yang membuat ketidak-mampuanku muncul. Ide-ide seakan mengejek, dengan
hanya datang sekelebat lalu meninggalkanku. Blogku rasanya juga kembali
dihinggapi rayap dan serangga yang suka membangun sarangnya di setiap
ujung rumah. aku tidak ingin mengusir mereka untuk kesekian kalinya
lagi. Biarlah mereka tinggali dulu pondok yang dulu sering dihinggapi
kata-kata itu.
Sekarang, semua hal tentang menulis beraroma harum tubuhmu. Dan suara
lembaran kertas yang dibalik dari buku-buku tua terdengar seperti
desahmu. Aku tidak ingin membual, tapi sungguh aku mual ketika membaca,
kata yang berkali-kali kususun ulang. Ketika kau tidak lagi sumsum
tulangku.
Kubaca kembali kumpulan puisi yang dulu sering kau bacakan untuk
menina-bobokanku. Dengan suara yang mendayu, menggiring sepasang mata
sayu menutup. Lembah-lembah kedamaian datang, seiring ketidaksadaranku.
Juru kata beristirahat di rongga-rongga kepala. Meremajakan kembali diri
mereka, setelah sepanjang hari memuntahkan dirinya dalam lembar kosong.
Besok, mereka kembali lagi bekerja. Berbaris dan mengatur diri secara
runtut dan apik.
Kubaca kembali ceritaku yang berkisah tentang kamu, semuanya.
Beberapa tidak pernah kusampaikan. Aku tersenyum, miris. Apa lagi yang
mau kutulis? Saat kata-kata yang dulu kau hidupkan, layu dan terkubur di
tanah duka. Apa lagi yang mau menjadi inspirasi? Ketika alur dan
keteraturan yang dulu kau urut pergi dan tidak lagi ingin diarahkan.
Kamu dan Hujan
Minggu, 18 Mei 2014
Kamu dan Hujan
Setiap kali ada kamu di sekitarku, aku tak sengaja berharap hujan
akan turun dengan sangat deras. Aku tak sengaja pelan-pelan merapalkan
doa, diam-diam menunduk khusuk, hanya supaya takdir berkenan menurunkan
hujan lebih lama dan lebih lama lagi.
Ketika bersamamu, aku ingin hujan selalu berebutan untuk turun, sebab aku tak tahu lagi dengan cara apa harus menahanmu agar tetap berada di sekitarku.
Jika aku meminta langsung padamu untuk menemaniku? Memangnya siapa aku? Maka kurasa itulah satu-satunya cara agar bisa memandangimu sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Aku suka berbicara denganmu, sekadar menghabiskan hari menunggu hujan reda. Aku suka mendengar suaramu, menyimak semua ceritamu, bahkan sekadar memandangimu, meski diam-diam saja aku sudah cukup bahagia. Melihat senyummu yang menenangkan. Memperhatikan gurat wajahmu yang menyenangkan. Menyimpan rapat-rapat semua ekspresi dan kata-katamu di dalam hati juga pikiran.
Tak apa meski kamu lebih ingin berbicara dengan yang lain. Tak apa meski kamu seolah enggan berbicara panjang lebar bersamaku. Sudah kubilang, kan? Ada kamu di sekitarku saja, cukup. Bisa mendengar suaramu diiringi debaran jantungku yang seolah berpacu dengan rintik hujan yang semakin deras saja sudah lebih dari cukup.
Bersamamu, rasanya aku tak membutuhkan apa-apa lagi.
Ketika bersamamu, aku ingin hujan selalu berebutan untuk turun, sebab aku tak tahu lagi dengan cara apa harus menahanmu agar tetap berada di sekitarku.
Jika aku meminta langsung padamu untuk menemaniku? Memangnya siapa aku? Maka kurasa itulah satu-satunya cara agar bisa memandangimu sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Aku suka berbicara denganmu, sekadar menghabiskan hari menunggu hujan reda. Aku suka mendengar suaramu, menyimak semua ceritamu, bahkan sekadar memandangimu, meski diam-diam saja aku sudah cukup bahagia. Melihat senyummu yang menenangkan. Memperhatikan gurat wajahmu yang menyenangkan. Menyimpan rapat-rapat semua ekspresi dan kata-katamu di dalam hati juga pikiran.
Tak apa meski kamu lebih ingin berbicara dengan yang lain. Tak apa meski kamu seolah enggan berbicara panjang lebar bersamaku. Sudah kubilang, kan? Ada kamu di sekitarku saja, cukup. Bisa mendengar suaramu diiringi debaran jantungku yang seolah berpacu dengan rintik hujan yang semakin deras saja sudah lebih dari cukup.
Bersamamu, rasanya aku tak membutuhkan apa-apa lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)