Minggu, 18 Mei 2014

For You

Setelah sekian lama tak menulis rasanya canggung kembali berhadapan dengan halaman kosong di Microsoft Word. Lembar putih kosong itu kini terasa terlalu kosong. Aku tertegun, malu. Sangsi seakan tak hendak pergi dariku, tariannya menari-nari men(an)gisi suasana di ruang kamar. Sangsi bisa menulis lagi. Sangsi, apakah menulis memang jalanku. Ataukah, aku hanya memaksakan diri bersahabat dengan hal yang tidak mungkin.

Sudah lama aku tidak menulis. Alasannya simpel, ketidak-hadiranmu yang membuat ketidak-mampuanku muncul. Ide-ide seakan mengejek, dengan hanya datang sekelebat lalu meninggalkanku. Blogku rasanya juga kembali dihinggapi rayap dan serangga yang suka membangun sarangnya di setiap ujung rumah. aku tidak ingin mengusir mereka untuk kesekian kalinya lagi. Biarlah mereka tinggali dulu pondok yang dulu sering dihinggapi kata-kata itu.

Sekarang, semua hal tentang menulis beraroma harum tubuhmu. Dan suara lembaran kertas yang dibalik dari buku-buku tua terdengar seperti desahmu. Aku tidak ingin membual, tapi sungguh aku mual ketika membaca, kata yang berkali-kali kususun ulang. Ketika kau tidak lagi sumsum tulangku.

Kubaca kembali kumpulan puisi yang dulu sering kau bacakan untuk menina-bobokanku. Dengan suara yang mendayu, menggiring sepasang mata sayu menutup. Lembah-lembah kedamaian datang, seiring ketidaksadaranku. Juru kata beristirahat di rongga-rongga kepala. Meremajakan kembali diri mereka, setelah sepanjang hari memuntahkan dirinya dalam lembar kosong. Besok, mereka kembali lagi bekerja. Berbaris dan mengatur diri secara runtut dan apik.

Kubaca kembali ceritaku yang berkisah tentang kamu, semuanya. Beberapa tidak pernah kusampaikan. Aku tersenyum, miris. Apa lagi yang mau kutulis? Saat kata-kata yang dulu kau hidupkan, layu dan terkubur di tanah duka. Apa lagi yang mau menjadi inspirasi? Ketika alur dan keteraturan yang dulu kau urut pergi dan tidak lagi ingin diarahkan.

Kamu dan Hujan

Setiap kali ada kamu di sekitarku, aku tak sengaja berharap hujan akan turun dengan sangat deras. Aku tak sengaja pelan-pelan merapalkan doa, diam-diam menunduk khusuk, hanya supaya takdir berkenan menurunkan hujan lebih lama dan lebih lama lagi.


Ketika bersamamu, aku ingin hujan selalu berebutan untuk turun, sebab aku tak tahu lagi dengan cara apa harus menahanmu agar tetap berada di sekitarku.


Jika aku meminta langsung padamu untuk menemaniku? Memangnya siapa aku? Maka kurasa itulah satu-satunya cara agar bisa memandangimu sedikit lebih lama dari yang seharusnya.


Aku suka berbicara denganmu, sekadar menghabiskan hari menunggu hujan reda. Aku suka mendengar suaramu, menyimak semua ceritamu, bahkan sekadar memandangimu, meski diam-diam saja aku sudah cukup bahagia. Melihat senyummu yang menenangkan. Memperhatikan gurat wajahmu yang menyenangkan. Menyimpan rapat-rapat semua ekspresi dan kata-katamu di dalam hati juga pikiran.


Tak apa meski kamu lebih ingin berbicara dengan yang lain. Tak apa meski kamu seolah enggan berbicara panjang lebar bersamaku. Sudah kubilang, kan? Ada kamu di sekitarku saja, cukup. Bisa mendengar suaramu diiringi debaran jantungku yang seolah berpacu dengan rintik hujan yang semakin deras saja sudah lebih dari cukup.

Bersamamu, rasanya aku tak membutuhkan apa-apa lagi.